Sunday, June 3, 2012

Dasar Kefilsafatan


PEMBAHASAN

DASAR-DASAR KEFILSAFATAN ILMU/ HAKEKAT ILMU

Dasar-dasar kefilsafatan ilmu ada tiga macam, yaitu dasar ontologis, epistemology, dan axiology.

A.     DASAR ONTOLOGIS
Dasar ontologis ini menjadi landasan pemikiran manusia untuk mengetahui tentang apa yang diinginkan sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada di luar manusia.
Ontology sebagai bagian dari metafisika yang mempelajari sebagai hal ada sebagai ada dalam alam ini telah melahirkan beberapa penafsiran antara lain:
1.Supranaturalisme
Faham ini mengungkap bahwa dalam alam terdapat wujud-wujud gaib (supranatural) yang bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa daripada alam nyata. Faham ini muncul dalam kepercayaan animisme yaitu kepercayaan adanya roh-roh yang bersifat gaib pada benda-benda seperti pada batu, pohon, air dsb.
2.Naturalisme
Faham ini menolak adanya faham supranaturalis dan sebaliknya melahirkan faham apa yang disebut materialisme yang mengungkapkan bahwa gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan-kekuatan yang bersifat gaib tetapi oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiriyang dapat dicari atau diketahui.
B.     DASAR EPISTEMOLOGIS ILMU
1.Pengetahuan
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang persoalan-persoalan pengetahuan. Sebagian besar filosof berpendapat bahwa epistemology merupakan penyelidikan filsafati terhadap persoalan-persoalan pengetahuankhususnya kemungkinan asal mula validitas sifat dasar dan aspek-aspek pengetahuan lainnya yang saling berkaitan.
Epistemology terkait dengan metodologi dan logika. Epistemology masuk ke dalam metodologi terkait dengan tata cara dan teknik-teknik untuk memperoleh sejenis pengetahuan yaitu pengetahuan ilmiah. Sedang epistemology masuk ke dalam logika terkait dengan azas-azas dan penyimpulan yang sah.
Persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemology pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologia dan axiologis masing-masing. Demikian juga bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untuk menjawab permasalahan-permasalahan tentang dunia emperis yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan dan mengontrol gejala alam.
Pada tahap awal manusia memperoleh pengetahuan yang bersifat mitos, sedang pada tahap selanjutnya ditandai oleh usaha manusia untuk mencoba menafsirkan dunia ini yang memiliki keterkaitan dengan manfaat praktis. Demikian seterusnya berkembangnya pengetahuan yang berakar pada pengetahua berdasarkan akal sehat (comman sense) yang didukung oleh metode coba-coba (trial and error)
Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk diterima sebab didasarkan pada akal sehat yang terdidk. Pengetahuan ilmiah tidak sukar untuk dipercaya sebab dapat diandalkan meskipun tidak semua masalah dapat dipecahkan secara keilmuan.
2.Metode Keilmuan
Metode keilmuan merupakan metode yang saling menempatkan dan memfungsikan 2 pola berpikir secara rasional dan empiris sebagai pendekatan dalam cara memperoleh pengetahuan yang benar atau cara memperoleh kebenaran pengetahuan.
Pola berpikir rasional hanya akan memperoleh pengetahuan yang memiliki kebenaran sementara (hipotesis) yang masih harus diuji kebenarannya secara signifikan dengan cara empiris. Apabila pengujian secara empiris mendukung hipotesis tersebut, maka hipotesis tersebut adalah benar secara keilmuan. Sebaliknya hipotesis tersebut akan ditolak bukan sebagai kebenaran keilmuan bila pengujian secara empiris tidak mendukung penyatuan yang dikandungnya.
Dengan demikian ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersususn secara logis dan sistematis dan telah teruji kebenarannya.
3.Dimensi Ilmu
Dimensi ilmu adalah tinjauan dari segi makna yang menunjuk dari masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari suatu pokok persoalan tertentu. Tinjauan ini terkait dengan pengertian ilmu yang memandang bahwa ilmu adalah suatu pranata kemasyarakatan, suatu kekuatan kebudayaan dan permainan.

Dari tinjauan dimensi ilmu dapat terangkum tema dimensi ilmu :
Ø  Cabang ilmu
a.       Dimensi ekonomik
b.       Dimensi linguistic
c.       Dimensi matematis
d.       Dimensi politik
e.       Dimensi psikologis
f.        Dimensi sosiologis
Ø  Pengetahuan reflektif abstrak
a.       Dimensi filsafati
b.       Dimensi logis
Ø  Aspek Realitas
a.       Dimensi kebudayaan
b.       Dimensi sejarah
c.       Dimensi kemanusiaan
d.       Dimensi rekreasi
e.       Dimensi system, dll
4.Struktur Umum
Ilmu sebagai sekumpulan pengetahuan sistemati terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan dan menjadi dasar teoritis yang member penjelasan dari sesuatu yang dimaksud di dalamnya. Unsur-unsur tersebut meliputi:
a.      Sasaran atau Objek pengetahuan ilmiah
Setiap cabang ilmu khusus mempunyai objek sebagai proper objek yang dapat dibedakan sebagai objek material dan objek formal. Objek material adalah fenomena yang ditelaah oleh ilmu, sedangkan objek formal adalah persoalan pokok tertentu yang dibahas dalam ilmu/ pengetahuan ilmiah.


b.      Pernyataan
1.       Deskripsi
Pernyataan yang bersifat deskriptif tentang susunan peranan dari fenomena yang terkait dalam ilmu anatomi, geografi.
2.       Preskripsi
Berupa petunjuk-petunjuk tentang apa yang seharusnya dilakukan terhadap fenomena yang terkait seperti dalam cabang-cabang ilmu social, misalnya ilmu pendidikan dan ilmu administrasi.
3.       Eksposisi pola
Merupakan bentuk pernyataan-pernyataan yang memaparkan pola-pola dalam sekumpulan sifat, cirri atau proses lainnya dari fenomena yang terkait seperti dalam antropologi dapat dipaparkan tentang pola-pola kebudayaan dari berbagai suku bangsa.
4.       Rekonstruksi historis
Merupakan bentuk pernyataan yang menggambarkan dengan penjelasan atau alas an yang diperlukan pertumbuhan sesuatu hal missal pada masa lampau yang jauh lebih baik secara alamiah atau karena campur tangan manusia seperti historiografi, ilmu purbakala dan haleontologi.
Di samping 4 bentuk pernyataan tersebut, terdapat pula proposisi-proposisi yang dibedakan menjadi azas, kaidah dan teori ilmiah.
1.       Azas ilmiah/ prinsip
Merupakan proposisi yang mengandung kebenaran umum berdasar fakta-fakta yang telah diamati.
2.       Kaidah ilmiah
Suatu proposisi yang mengungkapkan keajegan atau hubungan tertib yang dapat diperiksa kebenarannya diantara fenomena sehingga umumnya berlaku pula fenomena yang sejenis seperti hukum gaya berat dari Newton.
3.       Teori ilmiah
Kumpulan proposisi yang saling berkaitan secara logis untuk member penjelasan tentang sejumlah fenomena seperti teori Darwin tentang evolusi organisme.
5.Penggolongan/ Klasifikasi Ilmu/ Organisasi Pengetahuan
Penggolongan/ klasifikasi ilmu merupakan pengetahuan secara sistematis untuk menegaskan definisi suatu cabang ilmu, menentukan batas-batasnya, menjelaskan hubungannya dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Organisasi pengetahuan tersebut membagi ilmu secara sistematis berdasar ragam dan jenisnya.
Ø  Berdasarkan ragam ilmu dibedakan :
a.       Ilmu teoritis seperti fisika
b.       Ilmu praktis seperti etika
Ø  Berdasarkan jenis ilmu dibedakan :
a.       Ilmu matematis
b.       Ilmu-ilmu fisis
c.       Ilmu-ilmu geologis
d.       Ilmu-ilmu psychologis
e.       Ilmu-ilmu social
f.        Ilmu-ilmu linguistic
g.       Ilmu-ilmu interdesiplinair
Ø  Berdasarkan pembatasan bidang-bidang yang telah ditelaah:
a.       Ilmu-ilmu alam
b.       Ilmu-ilmu social

C.     DASAR AXIOLOGIS
Axiologis merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang persoalan-persoalan nilai dan karenanya sering disebut filsafat nilai.
Ada kesejajaran antara etika dan estetika karena keduanya bersangkutan dengan nilai, dimana etika bersangkutan dengan nilai moral dan estetika dengan nilai non moral.
Etika dalam perkembangannya melahirkan berbagai arti ganda, diantaranya:
·         Suatu pola umum tentang cara hidup
·         Suatu kumpulan aturan-aturan tentang tingkah laku atau kode molar
·         Penyelidikan tentang cara-cara hidup dan aturan-aturan tingkah laku
Konsep yang paling utama dalam etika adalah moralitas. Dengan ini dimaksudkan suatu kumpulan gagasan-gagasan yang secara relative formal tentang apa yang merupakan perilaku benar dan salah yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan sosialnya.
Kai Nielsen dalam bukunya Etics, Problems of dalam The Encyclopedia of Pilosophy (1967) membagi etika dalam dua macam yaitu etika normative dan meta etika. Etika normative sering disebut etika substansif menjuk pada kumpulan dari pernyataan-pernyataan etis atau pembahasan norrmatif yang sesungguhnya dari filosof moral. Sedangkan meta etika yang disebut pula sebagai etika analitis, etika kritis, etika teoritis, epistemologis dari etika dan logika dari etika menunjuk pada pembahasan mengenai arti-arti atau pemakaian-pemakaian dari istilah-istilah moral dan ucapan-ucapan tentang sifat dasar dan konsep-konsep moral.
Estetika adalah studi ilmiah yang berkaitan dengan salah satu dari hal-hal yang meliputi keindahan dan kejelekan, hal yang indah dalam alam dan seni, hal yang estetis, seni, cita rasa, patokan-patokan nilai, nilai bukan moral, benda estetis dan pengalaman estetis.
Estetika ilmiah atau estetika modern adalah penelaah intelektual yang sangat beragam yang memanfaatkan semua ilmu yang relevan dan sesuatu sumber lain untuk menerangi tentang seni dan peranannya yang berubah-ubah dalam peradaban.
Dasar axiology ini menjadi landasan untuk mengetahui apakah nilai pengetahuan tersebut bagi manusia atau untuk mengetahui hakekat nilai pengetahuan yang diperoleh yang bisa diharapkan menjadi landasan moral bagi kehidupan manusia. Nilai pengetahuan yang diperoleh manusia tidak seutuhnya memberikan kegunaan seperti yang diinginkan oleh manusia. Nilai ilmu juga dapat membawa malapetaka bagi manusia, seperti penciptaan bom.
Pada dasarnya ilmu bersifat netral. Ilmu tidak mengetahui sifat baik dan buruk, si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai suatu sikap yang menunjuk mana yang akan ditempuh dalam memanfaatkan ilmu yang bersifat netral tersebut, dengan kata lain netralisasi ilmu hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja.
Secara ontologis dan axiologis ilmuan harus mampu menilai antara yang baik dan buruk, yang pada hakekatnya mengharuskan dia menentukan sikap.
1.Tanggung jawab seorang ilmuan
a. ilmu merupakan hasil karya yang bersifat individual namun komunikasi dan penggunaan ilmu adalah bersifat social
b. kreativitas individu yang didukung oleh system komunikasi social yang bersifat terbukamenjadi proses pengembangan ilmu yang berjalan sangat efektif.
c. seorang ilmuan mempunyai tanggung jawab social karena ia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat dan mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat.
d. ilmuan bertanggung jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu an teknologi dan dalam hal ini ilmuat tidak boleh picik an menganggap ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya. Masih terdapat kebenaran-kebenaral lain disamping kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Bila kaum keilmuan konsekuen dengan pandangan hidupnya baik secara intelektual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu akan berdiri dengan kukuh. Berdirinya pilar penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawab social seorang ilmuan.
2. Penerapan Ilmu Pengetahuan dalam Masyarakat
a. Ilmu pengetahuan dan life world
1)      Permasalahan
Melalui C.P Snow dalam bukunya The Two Cultures, kita boleh membuat pembedaan yang cukup jelas antara dunia ilmu pengetahuan dan life world. Dunia ilmu pengetahun adalah dunia dunia objektif, universal, rasional. Sedangkan life world adalah dunia sehari-hari yang subjektif, praktis dan situasional.
Dampak ilmu pengetahuan terhadap life-world masyarakat diklasifikasi ke dalam dua kategori. Yang pertama dampak intelektual langsung terutama cara perubahan pandang tradisional terhadal realitas. Yang kedua dampak tidak langsung, melalui mediasi teknik-teknik ilmiah terutama teknik-teknik produksi dan organisasi social.
2)      Dampak intelektual
Penelitian antropologi membuat kita sadar akan banyaknya kepercayaan tak berdasar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat tradisional. Penyakit dianggap berkaitan dengan sihir, panen gagal dianggap karena dewa marah atau ulah seta, dan sebagainya. Semua kepercayaan diatas telah lenyap. Selain karena alasan perikemanusiaan, ilmu pengetahuan dilihat sebagai salah satu factor paling menentukan. Satu per satu gejala alam diterangkan dengan ilmu pengetahuan.
Secara umum, ada 4 hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan lenyapnya kepercayaan-kepercayaan tradisional.
Yang pertama, pengamatan lawan otoritas. Ilmu pengetahuan menuntut agar orang tidak mudah percaya begitu saja pada tradisi atau otoritas tapi percaya pada pengamatan dengan teknik-teknik yang rasional.
Kedua, otonomi dunia fisik. Selain percaya pada pengamatan sendiri, ilmu pengetahuan juga berangkat dari suatu filosofi tentang alam sebagai sesuatu yang otonom, yang memiliki hukumnya sendiri. Dunia fisik mengikuti hokum-hukum fisika, tidak ada pengaruh roh-roh halus.
Ketiga, disingkirkannya konsep tujuan. Lain dari agama, ilmu pengetahuan hanya mengenal sebab efisiensi dari suatu peristiwa. Jika diajukan suatu pertanyaan seperti mengapa banyak orang meninggal karena kangker, para dokter tidak akan menjawab supaya kita mengenal rencana Tuhan (ini sebab final, tujuan), melainkan hal-hal yang menyebabkan kangker.
Keempat, tempat manusia dalam alam.
3)      Dampak social praktis
Ilmu pengetahuan memungkinkan kita melakukan berbagai hal. Jika saya tau bahwa kausalitas merupakan hokum yang terdapat dalam alam, maka teori itu tidak hanya menjadi pengetahuan saya, melainkan juga mendorong saya untuk memprediksi munculnyta suatu akibat setelah mengetahi sebab, yang memungkinkannya pula dilakukan antisipasi yang diperlukan untuk menghadapi akibat tersebut.
Oleh kerna itu, teori ilmiah di satu sisi dapat menjadi theory of knowledge, di sisi lain menjadi theory of action.
4)      Watak intelektual
Proses pengambilan keputusan berdasarkan diskusi yang bebas mengandaikan satu hal, yaitu bahwa setia[ orang mengembangkan diri sesuai dengan tuntutan masyarakat ilmiah pada umumnya, yaitu taat pada rasio. Inilah watak intelektual nomor satu dan satu-satunya. Cirri-cirinya adalah:
Pertama, adanya keinginan untuk mengetahui fakta-fakta penting dan keengganan untuk menyetujui ilusi-ilusi yang menyenangkan (yang disajikan oleh ajaran-ajaran fanatic, dukun-dukun dan minuman keras atau obat bius)
Kedua, menjunjung tinggi keterbukaan. Ilmu pengetahuan selalu didasarkan pada pengamatan.
b.Ilmu pengetahuan dan politik
ilmu sosial dan politik terkait dengan telah berhasilnya ilmu pengetahuan melalui teknik ilmiah menjadi sarana bagi pengembangan kekuasaan dan control terhadap masyarakat.
Fakta teknik ilmiah dan pelaksanaan kekuasaan absolute:
1)      Teknik ilmiah dan kekuasaan
Teknik ilmiah dan kekuasaan memiliki hubungan yang sangat erat, contohnya antara praktek oligarki dan perang. Oligarki adalah system apa pun dengan kekuasaan tertinggi hanya dimiliki sekelompok orang, misalnya orang kaya tanpa orang miskin. Golkar tanpa PDI dan PPP. Sedangkan perang merupakan suatu praktek kekuasaan dengan tujuan mengalahkan dan menghancurkan seluruh potensi musuh.
a)      Oligarki
Salah satu keunggulan dari oligarki zaman modern adalah bahwa system pemerintahan itu menggunakan teknik-teknik ilmiah untuk memperkuat organisasi sosialnya.
System ini dinilai jahat karena mengandung 2 sifat buruk yaitu sifat totaliter dan egoistis. Sifat totaliter kekuasaan oligarki memiliki jangkauan semakin luas dan intensif berkat teknik-teknik ilmiah. Sifat egoistis oligarki memperkokoh sifat buruk manusia pada umumnya yaitu lebih mementingkan kepentingan sendiri daripada kepentingan masyarakat.
Pemerintahan oligarki dewasa ini mengandung bahaya yang jauh lebih efektif dibandingkan apa yang bisa dilakukan oleh para penguasa yang deskotis sebelumnya karena teknik ilmiah dewasa ini memiliki kemampuan menundukan banyak orang.
b)      Perang
Sejarah ilmu pengetahuan hampir tidak lepas dari keterlibatan ilmuan dalam urusan perang seperti banyak ilmuan yang terlibat dalam revolusi Prancis.
2)      Demokrasi
Menata kembali suatu masyarakat yang ditentukan oleh perangkat-perangkat teknik ilmiah secara demokrasi sehingga ilmu pengetahuan tidak membawa kehancuran melainkan memberikan harapan baru bagi kehidupan manusia.
Demokrasi merupakan urgensi apabila diinginkan agar individu terlindung dari kecenderungan teknik yang memperbesar kemungkinan individu menjadi komponen mesin. Ada 3 urgensi dari diterapkannya demokrasi dalam masyarakat ilmiah yaitu:
·         Agar individu dapat melihat dirinya berguna
·         Dapat terhindar dari kemalangan yang seharusnya tidak diterimanya
·         Memiliki kesempatan untuk berinisiatif dengan segala macam cara positif yang tidak merugikan orang lain.
3)      Peranan Ilmuan
Banyak ilmuan memerankan hal yang tidak kecil dalam hal pengambilan keputusan politik baik dengan menjadi staf dalam bidang penelitian milik pemerintah maupun menjadi staf dalam lembaga konsultasi public.
Menurut J. Habermas ada 3 model hubungan keja antara kedua belah pihak yaitu pihak ilmuan dengan pihak politisi.
Pihak ilmuan adalah Decicionistic. Menurut model ini, keputusan terakhir dari suatu kebijaksanaan public berada di tangan para pemegang kekuasaan yang pada dasarnya lebih memberikan perhatian pada konflik kepentingan dan nilai. Ilmuan hanya bertugas melayani kepentingan kekuasaan sehingga kebijaksanaanya dapat dijalankan di masyarakat.
Model yang kedua adalah Technocratic model. Model kerjasama ini mengunggulkan peranan ilmuan professional. Pemegang kekuasaan tergantung pada para ilmuan yang menjadikan dirinya sebagai salah satu organ masyarakat. Asumsi dari pendekatan ini adalah kebutuhan para pemegang kekuasaan atas kemajuan teknik dan kontinuitas rasionalitas dalam pemecahan masalah teknik dan praktis.
Kesulitan utama dari pendekatan ini sebenarnya terletak dalam pandangan yang menegaskan bahwa masalah praktis dapat dipecahkan dengan pendekatan teknis. Masalah praktis disamakan dengan masalah teknis. Pemecahan atas masalah ini tidak diharapkan dari seorang teknisi sedang yang dibutuhkan adalah suatu diskusi pembahasan bersama antara pihak-pihak yang terlibat.
Komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat merupakan kunci dari fragmatic model. Inilah model ketiga dan model ini melihat bahwa antara ilmuwan dan politisi terdapat interaksi kritis dalam suatu diskusi yang dilengkapi dengan informasi dan pertimbangan-pertimbangan ilmiah. Kedua belah pihak tidak saling memanfaatkan dan menguasai. Hubungan antaranya bersifat timbal balik. Ilmuwan menasehati politisi dan politisi mendorong ilmuwan untuk memikirkan kebutuhan-kebutuhan praktis masyarakat.
Diantara ketiga model tersebut, model yang paling mendekati tuntutan bagi demokrasi adalah model fragmatis. Model Decicionistis hanya member kewenangan yang luas bagi politisi untuk mengambil keputusan. Diskusi public kalaupun ada hanya berfungsi untuk memberikan kemungkinan terbaik pada pengambilan keputusan. Menurut pendekatan ini, keputusan berada diluar diskusi public.
Sebaliknya model teknokratis justru memberikan kesempatan yang luas bagi ilmuwan. Kehidupan politik harus diatur oleh administrasi yang rasional. Ilmuwan dengan alas an itu dapat menjadi elite politik yang karena memiliki kualifikasi professional dapat menentukan sendiri segala-galanya. Oleh karena itu, baik model decicionistis maupun model technokratik sama-sama tidak memberikan tempat bagi diskusi public yang menjadi fokus perhatian dari model fragmatis. Hanya pendekatan fragmatis yang menegaskan bahwa hanya komunikasi antara ilmuwan dan pelaku politik memecahkan masalah kebutuhan-kebutuhan praktis.




TUGAS METODE ILMIAH
DASAR-DASAR KEFILSAFATAN ILMU/ HAKEKAT ILMU
Logo_UNS.GIF

DISUSUN OLEH :
1.      ANASTASIA PUTRI ARINI           ( H0511009 )
2.     PARASTUTI SAFITRI DEWI          ( H0511055 )



FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2011 / 2012

PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pengetahuan yang merupakan produk kegiatan berfikir merupakan landasan peradaban dimana manusia menemukan dirinya dan menghayati hidup dengan lebih sempurna.
Pada hakekatnya upaya manusia dalam memperoleh pengetahuan didasarkan pada 3 masalah pokok meliputi apa yang ingin diketahui manusia, bagaimana cara memperoleh apa yang ingin diketahui oleh manusia dan nilai apa yang ingin diketahui oleh manusia.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kelihatannya berupa pertanyaan-pertanyaan biasa, namun pada dasarnya mencakup problem-problem pokok yang asasi yang merupakan problem-problem pokok filsafati yang bersifat ontologis, epistemologis dan axiologis. Problem-problem pokok filsafati tersebut merupakan landasan-landasan kefilsafatan ilmu yang diharapkan akan member jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut yang sesungguhnya.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.       Apa sajakah dasar-dasar kefilsafatan ilmu?
2.       Apakah yang dimaksud dengan dasar ontologis, dasar epistemology, dan dasar axiologi?
3.       Apa sajakah penafsiran dalam dasar ontologis?
4.       Apa sajakah jenis-jenis epistemology ditinjau dari dimensi ilmu?
5.       Apa perbedaan antara etika dan estetika dalam dasar axiology?
C.     TUJUAN
1.       Untuk mengetahui dasar-dasar kefilsafatan ilmu
2.       Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan dasar ontologis, dasar epistemology, dan dasar axiologi
3.       Untuk mengetahui penafsiran-penafsiran dalam dasar ontologis
4.       Untuk mengetahui jenis-jenis epistemology ditinjau dari dimensi ilmu
5.       Untuk mengetahui perbedaan antara etika dan estetika dalam dasar axiology.



KESIMPULAN
Dasar ontologis ini menjadi landasan pemikiran manusia untuk mengetahui tentang apa yang diinginkan sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada di luar manusia.
Ontology sebagai bagian dari metafisika yang mempelajari sebagai hal ada sebagai ada dalam alam ini telah melahirkan beberapa penafsiran antara lain supranaturalisme, dan naturalism.
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang persoalan-persoalan pengetahuan. Sebagian besar filosof berpendapat bahwa epistemology merupakan penyelidikan filsafati terhadap persoalan-persoalan pengetahuankhususnya kemungkinan asal mula validitas sifat dasar dan aspek-aspek pengetahuan lainnya yang saling berkaitan. Epistemology terkait dengan metodologi dan logika.
Dari tinjauan dimensi ilmu dapat terangkum tema dimensi ilmu :
Ø  Cabang ilmu
g.       Dimensi ekonomik
h.       Dimensi linguistic
i.         Dimensi matematis
j.         Dimensi politik
k.       Dimensi psikologis
l.         Dimensi sosiologis
Ø  Pengetahuan reflektif abstrak
c.       Dimensi filsafati
d.       Dimensi logis
Ø  Aspek Realitas
f.        Dimensi kebudayaan
g.       Dimensi sejarah
h.       Dimensi kemanusiaan
i.         Dimensi rekreasi
j.         Dimensi system, dll
Axiologis merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang persoalan-persoalan nilai dan karenanya sering disebut filsafat nilai.
Ada kesejajaran antara etika dan estetika karena keduanya bersangkutan dengan nilai, dimana etika bersangkutan dengan nilai moral dan estetika dengan nilai non moral.
Etika dalam perkembangannya melahirkan berbagai arti ganda, diantaranya:
·         Suatu pola umum tentang cara hidup
·         Suatu kumpulan aturan-aturan tentang tingkah laku atau kode molar
·         Penyelidikan tentang cara-cara hidup dan aturan-aturan tingkah laku
Konsep yang paling utama dalam etika adalah moralitas. Dengan ini dimaksudkan suatu kumpulan gagasan-gagasan yang secara relative formal tentang apa yang merupakan perilaku benar dan salah yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan sosialnya.
Estetika adalah studi ilmiah yang berkaitan dengan salah satu dari hal-hal yang meliputi keindahan dan kejelekan, hal yang indah dalam alam dan seni, hal yang estetis, seni, cita rasa, patokan-patokan nilai, nilai bukan moral, benda estetis dan pengalaman estetis.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment